Senin, 10 November 2008

DESA-DESA YANG KULEWATI:


...

Desadesa yang kulewati menyimpan lukaluka
Ada lima desa dengan lima luka.

Luka pertama:
Tepat di danaunya ada nanah berlumpur
Dan kumankuman peradaban menikmatin malam tanpa bulan

Orang-orang yang dipinggirnya hanya duduk diam
Menahan marah pada kekuasaan.

Luka kedua:
Tepat di kawahnya ada genangan darah
Yang pernah muncrat
Sedikit yang selamat.

Luka ketiga:
Nanah bergetah tepat dilehernya
Pohon-pohon tumbang hilang kepalanya
Seorang laki-laki juga kehilangan kepalanya
Setelah ia lewat di suatu bulak pada suatu malam,
dengan tas berisi uang hasil curian.

Luka keempat:
Tepat di dadanya
Gunung-gunung kehilangan tumbuh-tumbuhan
Kulit-kulitnya sobek, dagingnya rontok menenggelamkan

Rumah-rumah yang di dalamnya penuh jelaga.

Luka kelima:
Desa itu tak kelihatan lukanya
karena air bah
entah kapan mengering.
Musim kemarau belum juga tiba.


*)Situbondo Januari 2008

BALADA HUJAN SORE

...
Hujan sore bukan karena kerinduan
Bukan karena sepi
Dulu hujan adalah titik air mata
Jatuh dari mega
Menusuknusuk bumi
Menghujam ulu hatiku,
Hujan airmata ibuku
Yang rindu anaknya berada di kejauhan

Ternyata Cuma hujan gerimis
Mataharipun menangis
Akankah dimenangkannya senjanya kembali?

Aku telah nyaman berada di sini bersamamu
Sebagai pengembara yang rindu air
Ingin kusentuh sisa-sisa embun yang menempel di keningmu
Merabaraba apa yang kau pikirkan pada setiap pergantian musim!

*[Trenggalek, 09 Oktober 2008]

MALAM MENGASAH PISAU

......
Malam mengasah pisau
Kurobek langit hatiku
Dewa cinta menyandra bumi
Gerimis menangis di musim yang belum jelas
Entah semi entah gugur
Kata kata puisiku

Kadang kucoba menduga apa yang kaupikirkan menjelang tidur
Siang
Malam
Bintang?
Ataukah kunangkunang?
Atau aku yang selalu setia menunggu waktu
Yang pada pagi tak pernah absen mengirimu puisi

Tapi malam mengasah pisau:
Pernahkah engkau bermimpi seorang lelaki
Sedang mengendapendap ingin merobek hatimu,
Setelah ia sangat lelah karena terlalu lama mengembara dalam mimpi?

*[jAKARTA, awal Oktober 2008]

Menulis buku Cinta:

Cinta = Hubungan Bertujuan

Oleh: Nurani Soyomukti

Lebih buruk lagi ketika kita melihat fakta bahwa kisah cinta dijalani dan dipilih hanya karena ikut-ikutan. Maka aturan dan cara menjalaninya juga ikut-ikutan. Pada hal seharusnya tindakan cinta itu memerlukan pemikiran dan pengetahuan yang mendalam. Karena cinta bukanlah suatu hal yang abstrak, maka harus dikenali bagaimanakah ukuranm-ukurannya dan prakteknya yang membuat ia menguatkan hubungan—hubungan yang
dibangun dengan baik, dan bukan diikuti secara mengalir begitu saja.

Jika ukurannya adalah aliran perasaan, tentu saja akan banyak godaan-godaan dalam membangun hubungan. Dalam hubungan cinta eksklusif seperti pacaran dan pernikahan, jika masing-masing pihak yang berhubungan menjalaninya secara mengalir, maka tak akan diketahui arah dan tujuan hubungan itu. Bahkan kenapa mereka berhubungan dan bersatu juga tidak diketahui.

Ketidaktahuan tentang cinta, hubungan, dan kekasih kita akan melahirkan alienasi (keterasingan). Kebodohan adalah musuh umat manusia sepanjang abad, tepatnya musuh diri yang paling hakiki sebagai manusia yang konon telah lepas dari status kebinatangannya. Binatang itu tidak punya akal, pengembaraannya diatur oleh nafsu. Hewan adalah budak keinginan yang caranya hidup juga hanya untuk memenuhi keinginan itu sebagai “tuan” yang membuatnya tidak berpikir dalam bergerak.

Singkatnya, hubungan cinta yang maju lahir dari orang-orang yang menyatukan diri dan diikat dengan tujuan. Tidak capaian yang bisa diperoleh dari jiwa orang yang hidupnya absurd dan tak tahu untuk apa tujuan hidupnya dan tujuan hubungannya, tujuan cintanya. Biasanya ia terombang-ambing oleh lingkungan dan berbagai serangan-serangan pemikiran dan cara pandang dari luar dirinya, tetapi tetap saja ia tak dapat menyerap berbagai hal yang datang untuk mengisi pikiran dan hatinya. Ia tak punya patokan, tak punya ukura yang digunakan untuk menilai diri dan lingkungannya. Lalu, iapun berkata: “Hidupku mengalir, aku tak perlu patokan-patokan, aku tak perlu
menetapkan nilai untuk segala sesuatu. Bahkan aku tak ingin menilai, pada karena aku tak mau menghakimi. Yang penting kepuasan kudapatkan dari semua ini”.

Tetapi tampaknya pengetahuan juga menjadi naluri yang umum di setiap manusia. Aktifitas cuek tanpa pengetahuan dalam suatu hubungan akan membahayakan dan tampaknya merupakan hal yang jarang terjadi. Untuk membangun hubungan dengan seseorang yang ingin kita cintai, misalnya, aktifitas memahami dan memaknai kehadiran seseorang itu sangatlah niscaya. Seorang yang kemudian menjadi kekasih atau teman intim kita tentu adalah orang yang istimewa bagi kita—kecuali, sekali lagi, orang baru itu adalah perempuan yang dijumpai laki-laki di rumah bordir. Orang yang istimewa bagi kita awalnya adalah orang yang pada ’pandangan pertama’ menarik hati kita, setelah dekat ia menimbulkan pertanyaan: ”Siapakah ia?” Kitapun penasaran ingin mengetahui tentangnya.

Saat ada kesempatan bahwa kita semakin dekat dengannya, kita semakin penasaran dan banyak bertanya dan mencari tahu tentang dirinya. Jika ia memiliki pengetahuan dan pengalaman atau kelebihan yang tidak kita punyai, kita beranggapan bahwa orang inilah yang dapat melengkapi kita. Kita ingin menyatu dengan orang ini agar diri kita seakan menjadi lengkap. Kita ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan orang ini, kita ingin terus bersama, kita membangun komitmen—dan kemudian, misalnya, mengikatnya dengan pernikahan.

Sebagai bentuk hubungan eksklusif (sempit) dibanding hubungan antara sesama manusia yang lebih luas (universal), pernikahan merupakan model hubungan di mana sepasang manusia diasumsikan ingin melembagakan suatu bangunan relasi yang didasarkan pada tujuan yang lebih bersifat serius dan jangka panjang. Jadi di sini Nurani menegaskan adalah tujuan adalah kata kunci dan dari tujuan itulah kita bisa mengukur secara dini bagaimana suatu hubungan maju atau tidak.

Jika tujuan pernikahan adalah remeh, maka kita harus mengutuknya, mencegahnya dan jangan menirunya jika kita masih percaya pada cinta dan keadilan. Tak jarang orang-orang oportunis mencari perlindungan dan mengharapankan pamrih dari pernikahan. Dalam buku ”Intimacy”, saya menunjukkan beberapa hal yang dapat saya deteksi dari orang-orang yang melakukan pernikahan sebagai kedok dan untuk alasan kepentingan sempit dan oportunis barangkali adalah sebagai berikut:
[1] pertama, untuk mendapatkan seks an sich. Yang masuk dalam kategori ini biasanya adalah orang yang hanya ingin segera bisa menikmati kenikmatan seksual dan tujuannya menikah hanyalah itu—biasanya yang lain-lainnya tak terlalu dipikirkan, tak dipersiapkan, dan dorongan yang mendesak dari melakukan pernikahan hanyalah seks; Ini biasanya berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Kedua, menikah untuk mendapatkan fasilitas material saja. Tak jarang orang (biasanya lebih banyak perempuan) yang (baik terpaksa atau tidak) menikah agar segera mendapatkan orang yang dapat menghidupinya pada saat ia memang hanya akan tergantung pada orang lain. Terutama bagi perempuan yang tak produktif (menghasilkan pendapatannya sendiri) atau tak kerja, kondisi ketergantungannya akan sangat parah. Bagi perempuan yang memperoleh pendapatan pun, yang sering disebut ”perempuan independen”, mereka juga mengharapkan mendapatkan suami yang lebih kaya. Seakan kebanyakan perempuan memang lebih bahagia apabila ia mendapatkan suami yang lebih dan sangat kaya—seakan sudah menjadi naluri perempuan (meskipun tesis ini masih bisa diperdebatkan, karena ta mungkin suatu mental tak disebabkan oleh kondisi dan situasi historis).

Ketiga, tujuannya menunjukkan dominasi hubungan. Kebanyakan adalah laki-lakilah yang mengangga
p menikah sebagai alat agar ia mendapatkan pendamping (istri) yang bisa melayaninya, yang tunduk patuh padanya, yang mau memberinya keturunan tetapi untuk kejayaan dirinya sendiri—entah untuk menunjukkan eksistensi kelaki-lakiannya (keperkasaannya), dll. Keperkasaan dan narsisme semacam itu tak jarang ditunjukkan dengan ketidakberdayaan perempuan (istri) pada saat ia selingkuh baik resmi (poligami) maupun secara sembunyi-sembunyi.

Pertemuan antara perempuan yang tak produktif—saya menyebutnya sebagai ”parasite eves”—dengan laki-laki kaya yang cenderung narsis dan dominatif ini biasanya akan membuahkan penindasan dalam rumah tangga. Masalahnya: (1) si perempuan tak memiliki daya tawar ekonomis; dia tak memperoleh pendapatan sendiri dan hanya menggantungkan pada laki-laki (suam
i); (2) sang suami merasa bahwa dialah sumber dari pendapatan, artinya sumber kekuasaan. Dalam pola pikir rasional yang kapitalistik, sang istri dianggap sebagai buruh yang diupah oleh majikan (suami) dengan tugas-tugas domestik, misalnya: melayani kebutuhan seksual suami, merawat anak-anak, memasakkan nasi, kadang juga mencucikan baju, membersihkan rumah, dan lain-lain.

Bentuk dekadensi semacam itulah yang membuat hubungan menjadi bentuk yang merusah kemanusiaan, yang kalau kita selidiki lebih lanjut akan membuahkan berbagai bentuk dehumanisasi yang lebih luas yang diterima karena terwariskan kepada anak-anak kita.[]


----------------------------------------------
[1] Nurani Soyomukti. Intimacy: Membangun Kebersamaan dalam Pacaran, Pernikahan, dan Merawat Anak dengan Surga Keintiman. Surabaya: Prestasi Pustaka, 2008.
*****************************************

Jumat, 07 November 2008

Buku Baru NURANI SOYOMUKTI:




Catatan Nurani:

Coretan Tentang Hujan

Suatu hari
kau berjumpa dengan hujan.
Engkau mengembara dan mengembara lagi. Lalu kau mampir ke kota itu dan setelah berencana tinggal selama sebulan untuk menuntaskan sebuah gundah, maka kau jumpai lagi hujan lebat selalu turun di suatu sore.


Engkau tinggal di sebuah kamar lantai dua di mana di depan kamarmu terdapat pohon mangga yang waktu itu berbuah lebat. Saat hujan angin suatu sore, beberapa di antaranya rontok. Engkau mendengarnya dari dalam kamar, karena kaupun tak bisa keluar menembus hujan lebat, untuk sekedar membeli makanan atau menjumpai sahabat-sahabatmu.

“Ini memang musim hujan, dan kita tampaknya akan menerima cuaca ini hingga bulan Desember atau Januari tahun depan”, begitulah kau katakan padaku suatu malam saat hujan telah tuntas tetapi jalanan basah. Waktu itu kita sedang berbincang di tepi jalan, di sebuah warung kecil di mana ibu penjualnya memberimu kopi terbaik di kota itu.
“Iya, tadi aku hanya bisa berdehem di kamar. Hujan lebat. Beberapa buah mangga jatuh di depan kamarku. Entah siapa yang memungutnya kemudian... “.


Menerima hujan yang lebat, kadang aku memang merasa nyaman. Karena seperti ada yang mencurahkan air dari atas, jadi seakan ada yang melindungi kita di atas sana, yang seakan selalu memberi. Menerima air hujan juga mengingat kembali musim yang lalu. Aku dibawa masuk menuju kenangan dalam lorong kamarku yang bolong bagian atapnya
Kupandang senja dari balik jendela, bingkai rindu yang seperti membatasi cuaca. Kemarin lusa kuterima massage dari seorang kawan di Jakarta: “Sini juga hujan lebat Kawan… bahkan aku takut banjir akan dating lagi”.


Lalu aku harus kembali mengingat kenangan itu dari jendela kamarku, saat hujan. Kamarku terletak di lantai dua berhadapan dengan jalan, di depannya ada dua pohon mangga yang berbuah. Aku tidak memetiknya karena musim hujan membuat kita malas untuk makan buah-buahan.

Kamar ini memudahkan aku memungut kenangan, dari jendela. Di luar seakan terlihat Bundaran Hotel Indonesia, yang pernah bergelantung di pintu bus bersama kepala berkeringat. Hari ini seperti terlempar ke luar dari pintu jendela kamar. Seakan masih ada poster di dindingnya memuat seruan “Bentuk Pemerintahan Sementara!” Jalanan sana mengingatkan kembali:
Dalam keadaan tubuhmu yang berkeringat, kau boleh terjun di air kolam yang dicintai pancuran dengan terpaksa. Setelah lelah mengitari jalan bulat,
Seperti dapat mengelilingi dunia dengan cara yang cepat.
Air adalah bagian kehidupan yang paling kucintai, katamu suatu senja.
Lalu kau menceritakan bahwa lebih baik banjir dari pada kebakaran hutan.
Dan aku memilih bukan kedua-duanya.


Kadang hidup ini dapat kita sentuh bila kita menikmati salah satu bagiannya, balasmu.
Aku setuju, seperti senja sore itu, ketika dunia dihimpit oleh siang dan malam, jalan-jalan Jakarta berada dalam dunia kecilnya yang paling molek.
Malamnya batas hidup dan mati begitu tipis,
dunia begitu sesak seperti uang receh yang jatuh dalam seguci tuak.
Karena mere
ka membakar dirinya sendiri, balasmu.

Jadi kau lupa bahwa airpun juga bisa membakar tubuh dan jiwa manusia, seperti di banyak diskotik dan pub kota ini. Banyak momen yang membuat air membuat tubuh dan hati manusia perih.
Bukankah kita juga pernah terkena gas air mata, tukasku.
Lalu mulai hari itu, 22 Mei 1998, kau mencatat aristoteles.


Dunia bukan hanya terbuat dari air, tetapi juga tanah, udara, dan api. Dunia juga terbuat dari benci dan cinta, spanduk milik demonstran dan tank-tank baja milik tentara.
Juga bukan hanya api yang membakar bisa menghanguskan gedung-gedung kota kita, tapi sebuah misteri yang hingga saat ini masih kita cari.
Lalu kita mengakhiri diskusi menjelang maghrib, meninggalkan sisa-sisa nasi bungkus berlebih dan berceceran di taman-taman.

***
Sore ini hujan turun lagi, begitu lebat.
Memang ini
baru awal musim.

Kau ingat 27 Juni 2004, waktu hujan belum juga tiba?
Kali ini engkau benar, Kawan. Bagian kehidupan yang paling layak dicintai adalah air, yang dapat menyegarkan perasaanku hari ini. Karena aku juga membayangkan seorang perempuan cantik di kejauhan sana sedang berbaring, baru saja ia berkata padaku melalui telfon: “Sayang, hujan-hujan kayak gini enaknya tidur. Dan kapan kau kembali? Tak perlu menunggu pergantian musim, bukan?”…

-------------------------------------------



Senin, 26 Mei 2008

Resensi Buku "DARI DEMONSTRASI HINGGA SEKS BEBAS":

MAHASISWA TUMBAL KAPITALISME

JAWA POS/Minggu, 18 Mei 2008

Oleh: Faizah S.A., Guru SMK Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta

AHMAD Wahib (1942-1973) sempat menambang kerisauan ketika mengamati pola gerakan mahasiswa: "Kalau gerakan mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan negara-negara maju, saya kira kita ketinggalan puluhan tahun, baik dari segi keradikalan ide-idenya, kerevolusioneran sikap-sikapnya, kematangan koordinasinya, serta kekompakannya. Meski demikian kita boleh bangga bahwa pemimpin-pemimpin gerakan mahasiswa sebelum kemerdekaan adalah pejuang sekaligus pemikir." Kegelisahan yang digemakan Wahib dalam Pergolakan Pemikiran Islam pada 23 Oktober 1970 itu hingga kini masih terasa gaungnya.

Apalagi ketika mengamati gerakan mahasiswa saat ini yang bias oleh kepentingan pragmatis serta tidak memiliki pijakan paradigmatik yang jelas. Gerakan mahasiswa pun tumpul. Dan, predikat agen perubahan (agent of change) seperti bertengger di menara gading.Gerakan mahasiswa pernah mencapai klimaks pada Mei 1998 ketika berhasil menumbangkan (rezim otoriter) Soeharto sekaligus meneluhkan badai reformasi. Namun perlahan gelombang gerakan mahasiswa pun menyusut. Hatta, satu dasawarsa kemudian, Mei 2008, reformasi ternyata belum menghasilkan perubahan substansial yang benar-benar berarti. Tak ubahnya gerbong kosong, sebab reformasi tak dikawal dengan gerakan sistemik untuk membumikan agenda-agenda kerakyatan. Pertanyaan pun mencuat: ke manakah mereka, para mahasiswa, itu?

Nurani Soyomukti mendedahkan jawabnya dalam buku ini. Alumnus Fisip Universitas Jember itu menuduh mahasiswa saat ini tengah meringkuk dalam ruang pengap budaya yang dikonstruksi oleh kapitalisme. Dengan keperkasaannya, kapitalisme mengasingkan mahasiswa dari realitas sosial dan kebiasaan berpikir kritis serta berilmu pengetahuan, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Kapitalisme telah menelikung eksistensi mahasiswa agar tak lagi dapat menjadi "mahasiswa sejati" yang getol membela kebenaran dan keadilan, sehingga lahirlah generasi mahasiswa bergaya hidup anti-ilmiah dan anti-aksi-aksi advokasi kerakyatan (hlm. 23).

Meski masih ada segelintir mahasiswa yang berusaha loyal dengan khitahnya sebagai agen perubahan, keberadaan mereka mirip sepercik tinta yang menetes di lautan. Mereka gagal membangun pencitraan massif yang positif terhadap mahasiswa. Ironisnya, justru citra negatif yang kerap melekat pada diri mahasiswa karena acapkali tersandung kasus-kasus amoral.Itulah sekelumit fenomena buram gaya hidup mahasiswa yang dipotret buku ini: mulai dari melemahnya tradisi berpikir kritis lewat forum-forum diskusi yang tergantikan oleh budaya cangkrukan dan ngerumpi sambil pencat-pencet HP, menguatnya sikap hedonistik dengan gemar berbelanja di mal ketimbang membeli buku, bahkan merayakan pesta narkoba dan prostitusi terselubung.

Soyomukti menguraikannya dengan sangat gamblang tentang bagaimana terjadi pergeseran karakter mahasiswa dalam setiap zaman sampai pencitraan mahasiswa yang berubah di mata masyarakat.Mahasiswa memang mengalami penindasan kapitalisme melalui konstruksi gaya hidup dan budaya keseharian. Tanpa mereka sadari, nalar kritisnya ditumpulkan dan akses pengetahuan meski tampak kasat mata namun terbentur budaya tanding yang berorientasi pada pemenuhan hasrat hedonistik yang menggelapkan mata.

Dalam situasi demikian, eksistensi mahasiswa benar-benar berada di tubir jurang kehancuran.Betapa tidak, mahasiswa kini dikepung kapitalisme dari berbagai penjuru, mulai privatisasi pendidikan, materi pendidikan yang semata-mata mengabdi pada kepentingan industri pasar, serbuan realitas semu media yang menampilkan hipokritisme sosial melalui sinetron dan tayangan infotainment. Hal ini mengindikasikan kehidupan mahasiswa yang kian berjarak dengan realitas ketidakadilan dan pemiskinan masyarakat. Mereka kiranya tak menyadari bahwa semakin masuk dalam pusaran kultur yang diciptakan kapitalisme, maka eksistensi dan gaya hidup mereka pada hakikatnya tengah diteror (hlm. 80-91).

Dalam menganalisis fenomena kehidupan mahasiswa ini, Soyomukti tidak terjebak pada pendekatan moral-religius. Misalnya seperti yang dilakukan Iip Wijayanto dengan Sex in The Kost. Pendekatan demikian hanya melihat objek dengan kacamata hitam-putih dan mengasumsikan mahasiswa hidup di ruang hampa. Naga-naganya, pendekatan ini cenderung melarang atau mengharuskan dengan kriteria moral tertentu. Gaya hidup mahasiswa yang menyimpang serta sirnanya idealitas kerakyatan lantas dituduh sebagai temperamen yang memang sudah melekat. Bagi Soyomukti, moral bukanlah sebab, melainkan akibat dari kontradiksi kapitalisme.Karena itu, cukup masuk akal bila refleksi Soyomukti dalam buku ini sangat menarik dan terbilang tidak biasa. Ia tidak hanya melihat wajah makro kehidupan mahasiswa, tetapi juga meneroka fenomena subtil dan terdalam dari mahasiswa.

Maka, lebih dari sekadar reportase gerakan mahasiswa, buku ini mengungkap sisi lain kehidupan mahasiswa yang nyaris tak tersentuh oleh karya-karya serupa lainnya.Namun, di tengah-tengah kepiawaian Soyomukti dalam mengeksplorasi teori-teori kritis dan pemikiran kiri ala Marxian, psikologi Frommian, dan filsafat cinta Gibranian sebagai pisau analisis kajian, ia masih terkesan kurang tajam dalam menelanjangi teknologi kekuasaan dan kepentingan ideologis kapitalisme yang meneror kehidupan mahasiswa, sehingga analisisnya pun terasa agak normatif. Dus, munculnya garis demarkasi antara kegiatan subtil seperti berpacaran, dugem, shopping di mal dengan menelusuri kenikmatan belajar dan membangun aksi-gerakan melahirkan stigma moralitas oposisi biner. Kesan mereproduksi gaya tutur bernuansa dakwah pun tidak tertampik meski disusupi dengan analisis wacana kekiri-kirian.

Selain itu, meski cukup detail menjelajahi lajur-lajur pembebasan mahasiswa dalam konteks bernalar dan berpikir kritis guna membongkar hegemoni kapitalisme, buku ini tidak tegas memberi jawaban mengenai bagaimana praktik pembebasan yang terintegrasi dengan kekuatan-kekuatan gerakan rakyat dalam membumikan agenda kerakyatan.

Secuplik kelemahan tersebut tentu tidak mengurangi signifikansi dan kontribusi positif buku ini. Karena itu, buku ini layak diapresiasi para (calon) mahasiswa untuk bercermin, sekaligus bekal introspeksi dalam memaknai eksistensinya. (*)